𝐁𝐀𝐇𝐀𝐒𝐀 - 𝐒𝐀𝐒𝐓𝐑𝐀

Anak Durhaka, Ibu yang Melahirkan Dibuang

Cerita Pendek
Karya: Nana Arsita

SETELAH pemakaman suamiku, anakku Rudy membawaku naik angkot menuju pinggiran kota. Sepanjang jalan dia diam seperti batu. Aku pikir dia akan mengajakku ke rumah kerabat atau ke dokter untuk berobat rematikku yang semakin parah.

Tapi, ketika angkot berhenti di sebuah pasar malam yang sudah sepi, dia menoleh padaku dengan mata kosong.
β€œIbu… turun saja di sini.”
Aku terpaku. Tangan keriputku masih memegang erat tas kresek hitam yang sudah sobek di pinggir.
β€œKenapa, Nak? Kita mau ke mana?” tanyaku.

Dia menunduk, suaranya datar dan dingin.
β€œKami sudah tidak sanggup lagi, Bu. Hidup kami susah. Aku punya dua anak kecil, istri saya baru saja di-PHK. Tiap bulan listrik, sekolah anak, cicilan motor… Ibu makan banyak. Obat Ibu juga mahal. Maaf… sampai di sini saja,” seru anaku.

Dunia seperti runtuh di dadaku. Anak yang dulu aku lahirkan dengan menahan sakit selama dua hari dua malam. Anak yang aku susui sambil menangis karena ASI-ku kurang. Anak yang aku rawat sendirian saat demamnya nyaris merenggut nyawanya. Kini dia melemparku seperti sampah di pinggir jalan.

β€œNak… Ibu cuma punya kamu satu-satunya di dunia ini,” suaraku pecah.
Dia tidak menjawab. Hanya menyerahkan selembar uang lima ribuan dan berkata pelan:
β€œBeli makan malam dulu, Bu. Jangan telepon kami lagi. Kami sudah pindah nomor,” pintanya.

Sesaat kemudian, angkot itu melaju, meninggalkan aku berdiri sendirian di antara bau gorengan dan lampu neon yang berkedip redup. Malam itu aku tidur di bangku taman, kain sarungku jadi selimut, tas kresek jadi bantal. Dingin menusuk tulang. Aku menangis tanpa suara sampai pagi.

Rahasia 32 Tahun

Tapi aku menyimpan sebuah rahasia yang selama 32 tahun tidak pernah aku ceritakan kepada siapa pun β€” bahkan kepada suamiku yang sudah meninggal.
Dulu, saat aku masih berusia 19 tahun dan belum menikah, aku bekerja sebagai pembantu di rumah seorang pengusaha kaya raya di Surabaya bernama keluarga Darmawan.

Majikanku, Nyonya Siti Darmawan, seorang janda kaya yang sakit-sakitan. Selama dua tahun aku merawatnya dengan sepenuh hati. Mandikan, ganti popok, beri makan, bahkan sampai membersihkan muntahannya tengah malam.

Di hari terakhir hidupnya, Nyonya Siti memanggilku ke samping tempat tidurnya. Nafasnya sudah tersengal-sengal.
β€œLaras…” katanya sambil memegang tanganku dengan lemah, β€œkamu anak yang paling setia yang pernah aku punya. Ambil ini,” dia menyerahkan sesuatu.

Ternyata dia menyerahkan sebuah buku tabungan lama dan sebuah kunci kecil.
β€œDi bank ini ada uang yang aku sisihkan hanya untukmu. Jangan pernah buka sebelum kamu benar-benar putus asa. Kalau kamu masih bisa bertahan… simpanlah. Suatu hari… kamu akan butuh,” ujarnya.

Aku mengangguk sambil menangis. Selama 32 tahun, aku tidak pernah menyentuh buku tabungan itu. Bahkan saat suamiku sakit keras dan kami kehabisan uang untuk operasi, aku tetap tidak membukanya. Aku memilih menjual tanah warisan kecilku, meminjam ke rentenir, dan menahan lapar demi keluarga.

Pembalasan yang Sunyi

Malam ini, di bangku taman yang dingin, dengan perut kosong dan hati yang hancur, aku akhirnya membuka amplop kecil yang selama ini aku jahit di dalam lapisan tas kresekku. Di dalamnya ada buku tabungan dan secarik kertas tulisan tangan Nyonya Siti yang sudah menguning:
β€œUntuk Laras, anakku yang setia.
Saldo saat ini: Rp 4.850.000.000,-
Jangan kasih tahu anakmu. Mereka tidak pantas,” ucapnya dalam tulisan.

Aku menatap angka itu lama sekali. Tangan keriputku gemetar hebat. Anakku membuangku, karena mengira aku hanya beban miskin yang tak berguna. Padahal selama ini… aku adalah orang terkaya di antara kami semua.

Dan besok pagi, aku akan bangun, mandi di masjid terdekat, lalu pergi ke Bank. Bukan untuk membalas dendam. Tapi untuk memulai hidup baru β€” sendirian, tanpa mereka yang pernah kuberikan segalanya.*
FB IMG 1776505159510 Jurnal Sepernas

Laode Hazirun

Ketua Umum Jurnal Sepernas."Sepernas satu2nya organisasi pers dari Indonesia timur yg merancang UU Pers tahun 1998 bersama 28 organisasi pers" HP: 0813-4277-2255