𝐀𝐑𝐓𝐈𝐒

Mengenal Achmad Albar, Rocker Sejati

Jakarta, Jurnalsepernas.id – BICARA soal musik rock di Indonesia tidak akan lengkap tanpa menyebut nama Achmad Albar. Pria yang akrab disapa “Iyek” ini bukan sekadar vokalis, melainkan simbol perlawanan dan kreativitas tanpa batas. Dengan rambut kribo yang ikonik dan suara yang menggelegar, ia telah membuktikan bahwa talenta anak bangsa mampu berdiri sejajar dengan raksasa musik dunia.

Titik awal kariernya dimulai sejak usia bocah di Jakarta hingga menjadi musisi imigran di Belanda.

Ia Lahir di Surabaya pada 1946, Achmad Albar sebenarnya sudah mencicipi dunia hiburan sejak usia 11 tahun melalui film ‘Djendral Kantjil’.
IMG 20260222 WA0009 Jurnal Sepernas
Ia memulai langkah perjuangan bermusiknya dari nol saat hijrah ke Belanda pada tahun 1960. Di sana, ia tidak lantas sukses; Iyek harus berjuang membentuk grup Take Five dan Clover Leaf dari panggung ke panggung hingga akhirnya berhasil merilis 9 single di negeri kincir angin tersebut. Mentalitas “imigran musik” inilah yang menempanya menjadi musisi kelas dunia sebelum akhirnya pulang ke tanah air.

Titik balik yang mengubah sejarah musik Indonesia adalah kepulangannya pada 1973 untuk mendirikan God Bless. Dari seorang musisi yang berkarier di luar negeri, ia bertransformasi menjadi Superstar Rock nomor satu di Indonesia.
IMG 20260222 WA0010 Jurnal Sepernas
Puncaknya, Achmad Albar dan God Bless didapuk menjadi pembuka konser grup rock dunia, Deep Purple, di Jakarta pada 1975.

Tak hanya di jalur rock, Iyek menunjukkan keberaniannya dengan merambah musik Dangdut melalui album ‘Zakia’ yang meledak di pasaran, membuktikan bahwa seorang seniman sejati tidak boleh terkotak-kotak oleh satu genre saja.

Meski sempat tersandung kasus hukum yang menguji ketegarannya, Achmad Albar tetap berdiri tegak. Hingga usia senja, ia masih aktif menggetarkan panggung, membuktikan bahwa “Semut Hitam” tak pernah lelah mendaki puncak.

Perjalanan hidupnya adalah pelajaran tentang konsistensi; bahwa untuk menjadi legenda, seseorang harus berani jatuh, bangun, dan terus bernyanyi. Sumber: Wikipedia.

Pewarta/Editor: Loh

Laode Hazirun

Ketua Umum Jurnal Sepernas."Sepernas satu2nya organisasi pers dari Indonesia timur yg merancang UU Pers tahun 1998 bersama 28 organisasi pers" HP: 0813-4277-2255