Ritual Adat Suku Angket dan Rao Tetap Lestari

Soe, Jurnalsepernas.id – BAGI wilayah tertentu di tanah air, budaya leluhur tetap dipertahankan dan dilestarikan, sehingga adat dan istiadat tradisional dapat diwariskan ke anak cucu.
Demikian halnya Suku Angket dan Rao yang mendiami Desa Loli, Kecamatam Polen, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, (NTT) merayakan budaya lokal berupa ritual adat tahunan yang sudah menjadi tradisi bagi masyarakat setempat.
Ritual ini merupakan momen penting bagi keluarga besar Angket dan Rao untuk berkumpul dan menghormati leluhur mereka.
Ketua Adat Petrus Angket memimpin ritual ini dengan menyampaikan doa dan persembahan kepada arwah leluhur.
Ia berharap agar arwah leluhur dapat melindungi mereka dari segala marabahaya dan penyakit, serta memberikan mereka kehidupan yang sehat dan sejahtera yang lebih layak.
Persembahan yang diberikan berupa babi, beras, dan jagung muda yang berasal dari tanah olahan masing-masing keluarga.

Ritual ini diadakan di bawah kaki kayu bercabang tiga, yang dalam bahasa daerah setempat disebut “Hau Monef”, yang melambangkan Allah, Alam, dan Arwah.
Yosep Meni Angket, salah satu generasi penerus, menjelaskan bahwa ritual ini penting untuk menjaga tradisi dan menghormati leluhur.
“Kami ingin anak cucu kami tetap mengenal leluhur dan adat kami, serta memahami nilai-nilai moral dan etika yang diajarkan oleh leluhur,” ujarnya.
Albertus Rao, salah satu tokoh muda, menambahkan, ritual ini juga merupakan momen untuk mempererat hubungan keluarga.
“Kami memiliki tanggung jawab untuk mengumpulkan generasi muda dan mempersiapkan persembahan untuk leluhur,” papar Albertus Rao.
Petrus Angket juga mengingatkan keluarga besar Angket dan Rao untuk saling menghargai dan menyayangi satu sama lain.
“Kalian semua adalah satu darah, dan saya tidak ingin kalian bermusuhan,” imbuhnya.
Ritual adat ini diakhiri dengan makan bersama dan doa bersama, sebagai tanda syukur dan penghormatan kepada leluhur.

Makan bersama ini juga merupakan momen untuk memperkuat ikatan keluarga dan masyarakat.
Dalam ritual ini, juga terdapat proses pembagian tugas yang jelas antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki bertanggung jawab untuk mengumpulkan dan membunuh babi, sedangkan perempuan bertanggung jawab untuk mempersiapkan makanan dan minuman.
Ritual adat Suku Angket dan Rao ini merupakan contoh nyata dari pentingnya menjaga tradisi dan menghormati leluhur. Dengan ritual ini, masyarakat Suku Angket dan Rao dapat mempererat hubungan keluarga dan masyarakat, serta menjaga nilai-nilai moral dan etika yang diajarkan oleh leluhur.
Semoga ritual adat ini dapat terus dilestarikan dan menjadi contoh bagi masyarakat lainnya.
Pewarta: Maklon Angket
Editor Loh











