𝐁𝐑𝐄𝐀𝐊𝐈𝐍𝐆 𝐍𝐄𝐖𝐒

Aku Miskin Dihina Teman Sekolah, Tapi Aku Juara

Cerita Pendek
Karya: Nana Arsita

ORANG tuaku adalah pemulung, selama 3 tahun aku dikucilkan oleh teman sekelas, hingga satu kalimat; saya adalah lulusan terbaik saat acara pengumuman kelulusan membuat seluruh sekolah hening dan menangis.

Seluruh Auditorium SMAN 17 Makassar, Sulawesi Selatan
mendadak sunyi. Kilatan kamera dan bisik-bisik dari orang tua kaya seolah terhenti saat aku berdiri di depan mikrofon.

Aku Abdul Haris. Dan selama 6 tahun, aku menjadi bahan tertawaan, tempat sampah, dan orang yang paling dijauhi di seluruh sekolah.

“Bau busuk!” teriak Faiz, putra walikota, sambil menutup hidungnya setiap kali aku masuk ke ruang kelas saat kami masih kelas 1 SMA.

“Menjauh sana, jangan sampai bau asammu menular pada kami,” semprotnya.

Aku sudah terbiasa dengan ini. Orang tuaku, Ayah Nurdin dan Ibu Ratna, adalah pengumpul barang bekas atau pemulung. Setiap hari, bahkan sebelum matahari terbit, mereka sudah menarik gerobak kayu tua dengan roda sepeda. Mereka mengais tempat sampah orang-orang kaya, mengambil botol, plastik, dan karton untuk dijual ke pengepul.

Bau karat dan sisa makanan busuk seolah sudah melekat di kulitku. Apa pun sabun yang kugunakan, semua orang tahu bahwa aku berasal dari area kumuh. Tidak ada yang mau duduk di sampingku. Tidak ada yang mau makan bersamaku di kantin. Jika ada barang yang hilang di kelas, aku selalu menjadi orang pertama yang dicurigai.

Tiga tahun penghinaan. tiga tahun aku menunduk dan menelan air mataku sendiri.

Namun sekarang, di hari kelulusan kami, aku berdiri bukan sebagai seorang pemulung, bukan lagi anak yang dihina selama ini karena miskin melainkan, sebagai Sang juara, lulusan terbaik angkatan kami ketika diumumkan oleh MC.

Teman kelasku anak orang kaya yang selama ini menghinaku tertunduk malu, semua tak berani menatapku di atas podium. Mereka dikalahkan anak pemulung yang miskin. Orang tua merekapun yang kaya terlihat murung, kenapa bukan anak mereka yang juara umum kelulusan?

Aku menatap ke barisan paling belakang auditorium. Aku melihat mereka berdua. Ayahku mengenakan barong (pakaian formal) yang pudar dan kebesaran yang dibeli dari toko barang bekas. Ibuku mengenakan kebaya lusuh tersenyum getir, menunduk, dan berusaha menyembunyikan tangannya yang kasar dan menghitam karena malu kepada orang tua lain yang memakai perhiasan dan pakaian mahal.

Awalnya aku memilih untuk tidak memberi tahu kelas bahwa mereka akan datang, karena aku tidak ingin mereka dihina lagi. Tapi mereka ada di sini.

Aku menarik napas dalam-dalam. Pidato asliki yang tercetak di kertas perlahan kulipat dan kumasukkan ke dalam saku.

Aku mendekatkan mulutku ke mikrofon lalu aku menyapa selamat siang Bapak Kepala Sekolah, Wali Kelas, para guru terlihat tersenyum dan tepuk tangan, dan terakhir kedua orang tuaku tertunduk malu bercampur bangga d8an semua temanku dan orang tua mereka tertunduk malu menutupi kesombongannya tak menyangka anak yang mereka hina dan remehkan selama ini adalah menjadi juara.*

Laode Hazirun

Ketua Umum Jurnal Sepernas."Sepernas satu2nya organisasi pers dari Indonesia timur yg merancang UU Pers tahun 1998 bersama 28 organisasi pers" HP: 0813-4277-2255