Seorang Murid Dimarahi Guru karena Kerap Terlambat

Cerpen Carya: Nana Arsita
BU GURU Anita kerap memarahi anak muridnya bernama Dani, karena selalu datang terlambat. Namun Bu guru menangis 20 tahun kemudian saat anak itulah yang gantian
menggendongnya.
“Dani, kamu terlambat lagi,” bentak Bu Anita yang mendapat perhatian murid sekelas.
Suara Bu Anita menggema di seluruh ruang kelas 6 sebuah sekolah negeri di Malino, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Berdiri di depan pintu adalah Dani, dua belas tahun. Seragamnya basah kuyup oleh keringat, sepatunya penuh lumpur, dan ia terengah-engah setelah berlari turun dari gunung.
“Maaf, Bu…,” jawabnya pelan sambil menunduk.
“Setiap hari, Dani!” teriak Bu Anita.
“Kelas mulai jam delapan, kamu datang jam delapan lewat tiga puluh! Apa yang kamu lakukan? Begadang? Malas bangun? Apa kamu tidak punya rasa hormat pada waktu saya,” tanya Bu Anita kesal.
Teman-teman sekelasnya tertawa.
“Dani Si Telat!”
“Dani Kura-kura,” ejek teman-teman.
Dani tidak bergeming. Ia menerima omelan itu dalam diam.
“Tidak akan terulang lagi, Bu…”
“Selalu saja ‘tidak akan terulang’! Kalau besok kamu terlambat lagi, ke luar dari kelas saya,” sergah Bu Anita sembari menyuruh duduk.
Karena sangat kesal, Bu Anita dan konselor bimbingan, Pak Allan, memutuskan untuk mendatangi rumah Dani di bilangan Pasar Daya Makassar keesokan harinya saat subuh.
Pukul lima pagi, mereka sudah berada di depan sebuah gubuk kecil di kaki gunung.
“Lihat itu, Pak,” bisik Ibu Anita.
“Mungkin anak itu masih tidur.”
Namun tiba-tiba pintu terbuka, Dani ke luar.
Ada tas ransel kecil di depannya…
dan di punggungnya sembari menggendong seorang anak perempuan kecil.
Maya, adik bungsunya.
Kurus, pucat, dan tidak memiliki kedua kaki dari lutut ke bawah, karena kondisi bawaan lahir.
Mata Bu Anira terbelalak.
Ia tidak bisa berkata-kata.
Diam-diam mereka mengikuti kakak beradik itu.
Jalannya berlumpur. Mereka melewati sawah, pinggiran tebing, dan menyeberangi sungai yang dangkal.
Dengan sekuat tenaga, Dani menggendong Maya.
“Kak… turunkan aku sebentar,” suara Maya terdengar lemah.
“Aku berat…”
“Kamu tidak berat,” jawab Dani sambil terengah.
“Kamu ringan… seperti bantal. Kita sudah dekat dengan sekolahmu.”
“Kakak terlambat lagi ke sekolah. Nanti dimarahi lagi sama Bu Anita,” tutur Maya.
Dani tersenyum sambil membetulkan posisi gendongannya.
“Tidak apa-apa. Kakak sudah biasa.
Yang penting, kamu bisa masuk sekolah,” sahut Dani menghibur.
Ia memandang Maya dan berkata dengan nada bercanda:
“Kamu masih ingin jadi akuntan, kan?
Supaya bisa membelikan Kakak mobil saat besar nanti.”
“Iya, Kak!” jawab Maya dengan ceria.
Lebih dari satu jam mereka berjalan sebelum sampai di Pusat Pendidikan Luar Biasa.
Setelah mengantar Maya, Dani mencium kening adiknya.
Saat ia melihat jam tangan lamanya sudah pukul 07:30 pagi.
Ia berlari kembali ke arah gunung.
Menyeberangi sungai lagi. Tanpa bekal. Tanpa air minum.
Satu-satunya yang mengisi perutnya adalah
rasa sayang kepada adiknya.
Bu Anita terduduk di tanah sambil menangis.
“Tuhan…
Aku menyebutnya malas…
ternyata dia adalah seorang pahlawan.”
Dani tiba di sekolah pukul 08:15 pagi.
“Ma…Maaf, Bu… saya terlambat lagi,” ujar Dani.
Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.
Tiba-tiba Bu Anita memeluknya di depan seluruh kelas.
“Maafkan Ibu, Dani,” kata sang guru sambil terisak.
“Ibu tidak tahu pengorbananmu.”
Keesokan harinya, Maya mendapatkan kursi roda off-road baru dan layanan ojek gratis menuju sekolah.
“Naiklah,” kata Bu Anita.
“Agar kalian tidak terlambat lagi… meraih impian kalian.”
Dua puluh tahun berlalu.
Bu Anita kini berada di sebuah Panti Jompo di Lantebung. Makassar.
Duduk di kursi roda, berusia delapan puluh tahun, tubuhnya sudah lemah dan hidup sebatang kara.
“Bu Anita” kata perawat,
“Ada tamu VIP untuk Ibu.”
Di taman, terparkir sebuah mobil hitam.
Turunlah seorang pria mengenakan safari formal.
Tinggi. Rapi. Auranya sangat tenang.
Ia mendekat ke arah gurunya lalu berlutut.
“Selamat sore, Bu…”
Bu Anita memandangnya.
Suaranya bergetar.
“Da… Dani?”
Pria itu tersenyum.
“Sudah waktunya, Bu,” katanya dengan lembut.
“Sekarang ganti saya yang akan menggendong Ibu.”











