𝐁𝐀𝐇𝐀𝐒𝐀 - 𝐒𝐀𝐒𝐓𝐑𝐀

Segenggam Beras di Tangan Ayah

Cerpen Karya: Azu Ra

β€œPak Rahman, beras injakan orang juga mau Bapak kumpulin? Memangnya anak Bapak nggak bisa kasih makan?,” ejek Bu Sari.

Seketika tawa meledak di tengah hiruk-pikuk pasar gara-gara perkataan wanita yang sepantaran dengannya.

Pak Rahman tetap jongkok. Tangannya yang mulai keriput menyapu butir-butir beras dari lantai becek, meniupnya pelan sebelum memasukkannya ke plastik hitam.

β€œMasih bisa dicuci,” gumam Pak Rahman lirih.

β€œDicuci?” Harga diri juga bisa dicuci, Pak,” yang lain ikut menimpali.

β€œKatanya punya anak gadis. Cantik lagi. Kok bapaknya sampai mulung begitu,” Pak Sugeng meledek.

β€œLah, bagaimana mau bantu bapaknya? Kuliah aja si Sekar gak selesai, beda sama anakku yang cerdas dan bisa lulus sarjana. Makanya sekarang gak nyusahin orang tua,” kata Bu Sari dengan bangga merendahkan.

Tangan Pak Rahman berhenti. Bukan karena kata-kata itu baru pertama ia dengar, tapi karena matanya melihat anaknya, Sekar berdiri di hadapannya.

β€œBapak, sudah …,” ucap Sekar dengan suara gemetar pada ayahnya.

Gadis berkerudung sederhana itu melangkah mendekat, berusaha menutup tubuh ayahnya dari tatapan orang-orang.

β€œPulang saja Pak,” pinta Sekar.

β€œIni masih bagus, Nak. Nasi tetap nasi, walau jatuh,” ujar Pak Rahman pada Sekar anaknya.

β€œTapi Bapak bukan sampah yang pantas diinjak-injak,” suara Sekar pecah.

Pasar mendadak lebih sunyi dari biasanya.

β€œBerapa harga berasnya?” tanya seseorang dengan suara cukup berat hingga membuat semua orang menoleh.

β€œKalau mau beli, beli yang di karung, Mas. Jangan yang sudah diinjak,” jawab lelaki kurus yang baru saja menurunkan beras dari truk, membuat Sari terkekeh karena puas.

β€œBerapa harganya?” tanyanya lagi lebih dingin, membuat beberapa orang di sana menghentikan tawa kecilnya.

β€œYang dua puluh lima kilo harganya lima ratus dua puluh ribu, yang dua puluh kilo tiga ratus lima belas ribu, Mas.” Si pemilik kelontong yang juga berdiri di sana menjawab.

β€œSaya beli semua beras yang ada di sini, lalu antarkan ke rumah si Bapak ini,” pinta Pria misterius itu.

β€œHah,” ucap Bu Sari tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, sama hal dengan Pak Rahman dan Sekar yang mendongak kaget.

β€œKenapa pada diam?” ucap lelaki yang mengenakan kemeja biru laut itu.

β€œB-baik, Mas. Ini totalnya ada dua puluh karung, yang dua puluh lima kilo lima belas karung, yang dua puluh lima karung. Jadi, totalnya sembilan juta tiga ratus tujuh puluh lima ribu.”

β€œBaik, segera antarkan.” Lelaki itu berujar lagi.

β€œIni totalnya sepuluh juta, cek lagi saja,” ucapnya setelah menyodorkan amplop berwarna cokelat.

β€œT-terima kasih, Mas.” Pedagang itu berujar dengan wajah memerah.

β€œMaaf, Den. Sepertinya itu terlalu banyak, jadi tidak perlu,β€œ seru Pak Rahman.

β€œLebih baik terlalu banyak dari pada terlalu kurang, Pak. Agar Bapak tidak perlu memulung beras lagi di hadapan orang-orang tak punya hati,” sindirnya.

Pak Rahman terdiam menahan haru, walau demikian ia terus mengucap terima kasih.

β€œOh, ya. Apa anak Bapak ini sudah punya pasangan? Kalau belum, saya mau jadikan dia sebagai istri.”

β€œA-apa? Istri?” ucap Sari tak percaya.*

Laode Hazirun

Ketua Umum Jurnal Sepernas."Sepernas satu2nya organisasi pers dari Indonesia timur yg merancang UU Pers tahun 1998 bersama 28 organisasi pers" HP: 0813-4277-2255