𝐁𝐀𝐇𝐀𝐒𝐀 - 𝐒𝐀𝐒𝐓𝐑𝐀

Menantu-Menantu Serakah

Cerpen
Karya: Nana Asyifa

ANAK sulung Dokter, anak kedua Polisi, anak ketiga Militer, anak ke empat Pilot, namun di masa tuanya, sang Ibu justru menangis di depan piring plastik, karena hanya punya sambal terasi untuk dimakan. Ternyata selama ini anak-anak suksesnya tak memperhatikan, karena istri mereka yang pelit.

β€œApa cuma ini, Bu?”
Pertanyaan itu meluncur pelan dari Si bungsu yang keempat kakaknya sudah sukses hidup bersama istri kereka, tapi tapi bagi Sang ibu rasanya seperti pisau yang menusuk tepat ke dada.

Ibu itu terdiam. Tangan keriputnya masih menggenggam ulekan batu yang sudah retak di pinggirnya. Sambal terasi yang baru saja ia haluskan tampak sederhana, cabai rawit, bawang, sedikit terasi bakar. Tak ada lauk lain di atas meja kayu yang mulai lapuk itu.

Ia menelan ludah sembari menghela napas.
β€œIya, Nak,” jawabnya lirih kepada bungsu yang masih tinggal dengannya di kampung. β€œHari ini kita makan sambal terasi dulu,” lanjutnya rasa sesak.

Anak lelaki di depannya, bungsu, satu-satunya yang masih tinggal bersama, tersenyum tipis. Senyum yang terlalu dewasa untuk wajah remajanya.

β€œTidak apa-apa, Bu,” katanya cepat. β€œSambal terasi buatan Ibu paling enak di dunia,” rayu Si bungsu.

Ibu itu tersenyum. Tapi senyum itu rapuh. Matanya berkaca-kaca, buru-buru ia palingkan wajahnya ke arah kompor minyak tanah yang nyalanya kecil dan tak stabil.

Dulu…
Dulu Ibu memasak bukan di dapur seperti ini.

Dulu, ia memasak sambal terasi di dapur luas berlantai marmer, dengan exhaust fan besar, lemari penuh piring mahal, dan kulkas dua pintu yang selalu terisi. Dulu, sambal terasi ini hanya pelengkap, pendamping ikan bakar, ayam goreng, sayur lodeh, rendang, bahkan kadang steak yang dibeli anak-anaknya sepulang kerja.

Sekarang…
Sambal terasi itu adalah segalanya.

β€œIbu nggak apa-apa, kan?” si bungsu bertanya lagi, suaranya penuh kekhawatiran. β€œDari tadi Ibu melamun terus.”

Ibu menggeleng cepat. β€œTidak, Nak. Ibu cuma… kepanasan.”

Padahal bukan panas yang membuat dadanya sesak.

Ia duduk perlahan di bangku kayu, punggungnya terasa nyeri. Nafasnya pendek. Tangannya bergetar saat menuang nasi ke piring seng yang sudah penyok.

β€œDulu…” tiba-tiba ia bersuara.

Si bungsu mengangkat kepala. β€œDulu kenapa, Bu?”

Ibu menatap sambal terasi itu lama sekali. Seakan di dalam ulekan itu tersimpan seluruh hidupnya.

β€œDulu,” katanya pelan, β€œIbu bikin sambal ini buat lima anak laki-laki Ibu. Kalian rebutan. Sampai berantem.”

Si bungsu terkekeh kecil. β€œIya. Kakak-kakak selalu bilang sambal Ibu bikin nagih.”

β€œIya,” ibu tersenyum kecil. β€œDan Ibu selalu senang lihat kalian makan lahap. Walaupun capek, walaupun tangan panas kena ulekan, Ibu bahagia.”

Ia berhenti bicara. Nafasnya terdengar berat.

β€œTapi dulu, Nak… sambal ini cuma pelengkap. Sekarang…”
Ia tak sanggup melanjutkan.

Si bungsu memegang tangan ibunya. Tangan itu dingin, tulangnya menonjol.

β€œSekarang juga tidak apa-apa, Bu,” katanya tegas, seolah meyakinkan dirinya sendiri. β€œYang penting kita masih bisa makan bareng.”

Ibu mengangguk, tapi air mata jatuh tanpa izin.

Ia teringat masa-masa itu.
Masa ketika rumah mereka selalu ramai.

Lima anak laki-laki. Lima suara. Lima pasang kaki yang berlarian di lantai rumah besar mereka. Lima piring yang harus ia siapkan setiap hari.

Ia ingat betul bagaimana ia membiayai semuanya.

β€œUang Ibu masih cukup,” katanya dulu pada suaminya setiap kali mereka ragu.
β€œBiarkan anak-anak cari jati diri. Jangan ikat mereka. Biarkan mereka terbang.”

Dan mereka terbang.

Anak sulung jadi dokter.
Anak kedua jadi polisi.
Anak ketiga masuk militer.
Anak keempat jadi pilot.

Ia menangis haru saat melihat foto-foto kelulusan mereka. Seragam rapi. Wajah bangga. Ia peluk foto-foto itu sambil berdoa, mengucap syukur.

β€œIbu nggak minta apa-apa,” katanya dulu. β€œAsal kalian jadi orang baik.”

Dan mereka berjanji.

β€œIbu tenang saja,” kata anak sulungnya suatu hari. β€œNanti kami yang jaga Ibu.”

Ibu itu menutup mata. Dadanya semakin sesak.

β€œNak…” ia memanggil pelan.

β€œIya, Bu?”

β€œKakak-kakakmu… sudah lama nggak ke sini, ya?”

Si bungsu terdiam.

β€œSudah lama,” jawabnya akhirnya jujur.

β€œTelepon?” tanya ibu, suaranya bergetar.

β€œJarang,” jawab si bungsu, lebih pelan.

Ibu mengangguk. Seakan ia sudah tahu jawabannya.

Ia teringat bagaimana terakhir kali ia menelpon anak keduanya. Suaranya dingin di seberang sana.

β€œMaaf, Bu, saya sibuk,” katanya. β€œIstri saya juga kurang suka kalau sering ke kampung.”

Kurang suka.

Dua kata itu lebih menyakitkan daripada makian.

β€œIbu salah ya, Nak?” tiba-tiba ibu bertanya.

Si bungsu kaget. β€œSalah apa, Bu?”

β€œSalah terlalu percaya,” katanya lirih. β€œSalah terlalu mencintai.”

Si bungsu menggenggam tangan ibunya erat. β€œIbu tidak salah. Kakak-kakak yang lupa.”

Ibu tersenyum pahit.

Ia teringat menantu-menantunya. Wajah cantik, pakaian mahal, tas bermerek. Mereka tersenyum sopan di awal pernikahan, memanggilnya Mama dengan suara manis.

Tapi setelah harta habis…
Setelah rumah dijual…
Setelah tak ada lagi yang bisa dibanggakan…

Ia bukan lagi siapa-siapa.

β€œBu,” si bungsu bersuara pelan, β€œmaaf ya… kalau hari ini cuma bisa makan dengan sambal terasi.”

Ibu menatap anak itu lama. Anak yang paling muda. Anak yang tak pernah ia kirim jauh. Anak yang tak pernah ia banggakan dengan gelar atau seragam.

Justru anak inilah yang sekarang ada di sisinya.

β€œMaaf?” ibu tersenyum lemah. β€œHarusnya Ibu yang minta maaf.”

β€œKenapa?”

β€œKarena Ibu nggak bisa kasih kamu hidup enak seperti kakak-kakakmu.”

Si bungsu menggeleng keras. β€œHidup sama Ibu sudah lebih dari cukup.”

Air mata ibu jatuh lagi. Kali ini ia tak menghapusnya.

Mereka makan dalam diam. Nasi hangat, sambal terasi sederhana. Tak ada lauk. Tak ada suara televisi. Hanya suara sendok yang menyentuh piring.

Di luar, hujan mulai turun perlahan.

Ibu memandang hujan itu, lalu berbisik hampir tak terdengar,
β€œYa Allah… kalau memang ini jalanku… kuatkan aku. Tapi jangan Kau biarkan anak bungsuku menanggung semua ini sendirian.”

Si bungsu menunduk. Matanya gelap. Di dadanya, ada sesuatu yang tumbuh perlahan, bukan sekadar kesedihan.

Itu adalah amarah.
Dendam.
Janji yang ia ucapkan pada dirinya sendiri.

Suatu hari nanti…
aku akan buat mereka semua melihat.
Melihat siapa yang benar-benar berbakti.
Dan siapa yang durhaka.

Ibu tak tahu.
Ia hanya melihat anak bungsunya tersenyum sambil menyuapkan sambal terasi ke mulutnya.

Namun di luar rumah kecil itu, takdir mulai bergerak.
Dan masa lalu yang megah…
belum selesai menagih harga.

Malam itu, sebuah surat lama jatuh dari lemari tua, berisi catatan pengorbanan ibu yang tak pernah diketahui siapa pun…*

Laode Hazirun

Ketua Umum Jurnal Sepernas."Sepernas satu2nya organisasi pers dari Indonesia timur yg merancang UU Pers tahun 1998 bersama 28 organisasi pers" HP: 0813-4277-2255