Gas Elpiji 3 Kg Langka di Kecamatan Batu Putih dan Tolala

Lasusua, Jurnalsepernas.id – WARGA Kecamatan Batu Putih dan Tolala, Kabupaten Kolaka Utara (Kolut), Sulawesi Tenggara (Sultra) mengeluhkan terkait sulitnya mendapatkan tabung gas elpiji bersubsidi ukuran 3 Kilogram (Kg) akibat langka.
Selain langka, harga jual di tingkat pengecer juga dilaporkan melonjak jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Berdasarkan pantauan awak media di lapangan pada awal Juni 2026, banyak pangkalan resmi maupun agen penyalur di kedua kecamatan tersebut sering kali kehabisan stok.
Warga yang membutuhkan gas untuk kebutuhan memasak sehari-hari terpaksa mengantre panjang atau bahkan berkeliling dari satu warung ke warung lain hanya untuk menemukan satu tabung gas.
HET Rp25 Ribu, Dijual Hingga Rp45 Ribu
Secara resmi, HET untuk tabung gas 3 kg di wilayah Kecamatan Batu Putih dan Tolala ditetapkan sebesar Rp25.000 per tabung. Namun, fakta di lapangan menunjukkan harga yang sangat berbeda.
“Waktu ada stok, paling cepat habis dalam hitungan jam. Kalau dapat, harganya sudah naik. Yang seharusnya Rp25.000, sekarang dijual antara Rp35.000 hingga Rp45.000 per tabung,” keluh salah seorang warga Desa Patikala, Kecamatan Tolala, yang enggan disebutkan namanya.
Kondisi serupa juga terjadi di Kecamatan Batu Putih. Para ibu rumah tangga mengaku kewalahan dengan kenaikan harga ini, mengingat gas elpiji 3 Kg adalah kebutuhan pokok yang digunakan setiap hari.
Dugaan Penimbunan dan Pembatasan
Pembelian
Adanya kelangkaan ini diduga kuat akibat adanya praktik penimbunan oleh oknum tertentu, serta distribusi yang tidak merata dari agen utama ke pangkalan-pangkalan kecil di pelosok desa.
Untuk mengatasi hal ini, Pemerintahv Kabupaten (Pemkab) Kolaka Utara sebenarnya telah menerapkan aturan pembatasan pembelian, di mana satu orang hanya diperbolehkan membeli maksimal satu tabung, sementara pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dibatasi dua tabung.
Namun, aturan ini dinilai belum sepenuhnya efektif, karena masih banyak ditemukan penjualan bebas tanpa kontrol ketat di beberapa titik.
Desakan Pengawasan Ketat
Menanggapi hal ini, tokoh masyarakat setempat, Jumardi, mendesak Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kolaka Utara serta aparat penegak hukum untuk turun tangan langsung.
“Kami meminta pihak berwenang melakukan sidak rutin ke pangkalan-pangkalan di Batu Putih dan Tolala. Jangan biarkan rakyat kecil dirugikan dengan harga selangit dan barang yang sengaja disembunyikan. Ini menyangkut hajat hidup orang banyak,” tegas Jumardi.
Ia juga menghimbau, agar agen resmi lebih transparan dalam menyalurkan kuota gas subsidi sesuai dengan data Penerima Bantuan Energi (PBE) yang valid, sehingga tepat sasaran dan tidak bocor ke tangan spekulan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Disperindag Kolaka Utara belum memberikan tanggapan resmi terkait lonjakan harga spesifik di dua kecamatan tersebut.
Warga berharap, solusi konkret segera diberikan agar stabilitas harga dan ketersediaan gas elpiji 3 kg kembali normal.
Pewarta: Jumardi
Editor : Loh












