Sorot

Tanggul Pemecah Ombak Meulaboh Terancam Ditelan Bumi

Meulaboh, Jurnalsepernas.id –
PROYEK pembangunan tanggul pemecah ombak di kawasan pesisir Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, Aceh kembali menjadi sorotan publik.

Betapa tidak, Bangunan yang diharapkan mampu menjadi pelindung kawasan pantai dari ancaman abrasi dan banjir rob tersebut kini justru terlihat semakin tertutup material pasir sebagaiman disaksikan awak media, Ahag (13/9/26).

Proyek yang mulai dikerjakan sejak 2020 hingga 2023 dan dilanjutkan pembangunannya pada 2024 hingga selesai itu, memiliki panjang sekitar 1,6 kilometer, dengan anggaran pembangunan yang disebut mencapai puluhan miliar rupiah dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Namun, kondisi terkini di lapangan memunculkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan fungsi bangunan tersebut.

Berdasarkan pantauan awak media di lapangan, sejumlah struktur beton pemecah ombak yang membentang di sepanjang pesisir kini tampak terkubur, bahkan pada beberapa bagian, struktur beton yang seharusnya menjadi bagian penting dari sistem perlindungan pantai tersebut hanya terlihat sebagian, sementara bagian lainnya tertutup pasir.

Kondisi tersebut, diduga berkaitan dengan kwalitas proyek, sehingga sproses sedimentasi dan dinamika gelombang laut yang terus berlangsung di kawasan pesisir.

Persoalan timbunan pasir disebut bukan baru terjadi. Setiap pergantian musim, terutama ketika memasuki musim barat, gelombang laut yang lebih besar menghantam kawasan pesisir Meulaboh.

Gelombang dan arus laut kemudian membawa material pasir dan mengendapkannya di sekitar struktur tanggul.

Dari pengamatan di lapangan, timbunan pasir disebut dapat bertambah sekitar 10 hingga 30 sentimeter setiap musim dalam setiap tahunnya.

Jika proses tersebut terus berlangsung, bukan tidak mungkin sebagian besar badan tanggul akan kembali tertutup pasir.

Saat ini, pada sejumlah titik, struktur tanggul disebut hanya menyisakan sekitar 70 sentimeter bagian yang masih terlihat di atas permukaan pasir, sementara bagian lainnya bahkan nyaris tidak terlihat.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar., apakah desain dan sistem perlindungan pantai yang diterapkan benar-benar telah sesuai dengan karakteristik pesisir Meulaboh?

Pembangunan infrastruktur perlindungan pantai tentu membutuhkan perencanaan berdasarkan berbagai aspek teknis, mulai dari karakteristik gelombang, arus laut, pasang surut, arah angin, perubahan garis pantai, hingga pola pergerakan dan sedimentasi pasir.

Jika sebuah struktur perlindungan pantai justru terus-menerus tertimbun material pasir, maka kondisi tersebut layak menjadi bahan evaluasi teknis.
bukan berarti bangunan beton tidak dapat digunakan untuk perlindungan pantai. namun, efektivitasnya sangat bergantung pada desain, lokasi, konstruksi, serta karakteristik dinamika pantai tempat bangunan tersebut didirikan.

Oleh karena itu, diperlukan kajian untuk memastikan apakah sistem yang dibangun mampu bekerja sebagaimana tujuan awal proyek.

Selain pendekatan struktur beton, perlindungan pesisir juga dapat menggunakan pendekatan berbasis alam atau nature-based solution.
IMG 20260915 WA0001 Jurnal Sepernas
penanaman vegetasi pantai pada lokasi yang sesuai dapat membantu mengikat material pasir, menjaga stabilitas kawasan pesisir, sekaligus memberikan fungsi ekologis. namun, penggunaan vegetasi pantai bukan berarti otomatis dapat menggantikan seluruh fungsi struktur beton.

Solusi yang paling tepat tetap harus ditentukan bisa saja solusi terbaik berupa struktur keras, veJurnalsepernas.idgetasi, atau kombinasi keduanya.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah dan instansi teknis terkait dinilai perlu segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proyek tanggul pemecah ombak Meulaboh.

Evaluasi diperlukan untuk mengetahui penyebab utama sedimentasi, perubahan garis pantai, pola arus dan gelombang, serta sejauh mana struktur tersebut masih mampu menjalankan fungsi perlindungan sebagaimana tujuan pembangunannya.

Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan apakah desain awal proyek telah mempertimbangkan dinamika pesisir dalam jangka panjang.

Sebab, jika setiap tahun persoalan yang sama kembali terjadi dan membutuhkan penanganan berupa pengerukan atau pemindahan pasir, maka biaya pemeliharaan berpotensi terus membebani anggaran negara.

Proyek yang dibangun dengan anggaran puluhan miliar rupiah tentunya diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang.

Sebaliknya kini, pemandangan di lapangan justru memperlihatkan sejumlah bagian struktur beton perlahan “menghilang” di balik timbunan pasir Pantai.

Kondisi tersebut semestinya menjadi alarm bagi pemerintah untuk tidak sekadar melakukan penanganan ketika masalah muncul, tetapi melakukan kajian menyeluruh terhadap sistem perlindungan pantai yang telah dibangun.

Apakah tanggul tersebut memang tidak sesuai dengan karakteristik Pantai Barat Aceh, ataukah diperlukan sistem pendukung lainnya agar fungsi perlindungan pantai dapat berjalan optimal?

Jawaban atas pertanyaan itu tentu membutuhkan kajian teknis dari pihak yang berkompeten.
Yang jelas, masyarakat berharap investasi negara puluhan miliar rupiah tersebut tidak berakhir hanya menjadi struktur beton yang perlahan ditelan Bumi Pantai Pasie Ujong Kalak dan Pantai Pasie Loaron.

Pewarta: Dedy Surya
Editor : Loh

Laode Hazirun

Ketua Umum Jurnal Sepernas."Sepernas satu2nya organisasi pers dari Indonesia timur yg merancang UU Pers tahun 1998 bersama 28 organisasi pers" HP: 0813-4277-2255