πƒπ”ππˆπ€

Yasser Arafat Antara Perjuangan dan Cinta

Ramallah, Jurnalsepernas.id – DIBALIK sosok Yasser Arafat, pemimpin perjuangan Palestina yang dikenal keras, penuh strategi, dan hampir seluruh hidupnya dihabiskan untuk politik serta diplomasi internasional, memperjuangkan kemerdekaan negara Palestina, ternyata tersimpan kisah pribadi yang jarang diketahui dunia.

Selama puluhan tahun, dunia hanya mengenalnya sebagai simbol perjuangan Palestina; sosok dengan sorban khas, pistol terselip di pinggang, suara tegas, dan wajah yang selalu muncul di tengah konflik Timur Tengah (Timteng). Namun, di balik semua itu, ada kisah tentang seorang wanita muda yang akhirnya menjadi pendamping hidupnya.

Wanita itu bernama Suha
Tawil, lahir dari keluarga terpelajar Palestina.

Suha Arafat lahir pada 17 Juli 1963 di kota Ramallah, wilayah Tepi Barat Palestina.
Ia berasal dari keluarga Palestina yang cukup terpandang dan berpendidikan tinggi.
Ayahnya, Daoud Tawil, dikenal sebagai seorang bankir Palestina yang memiliki reputasi di dunia keuangan.

Ibunya adalah Raymonda Tawil, seorang jurnalis dan aktivis politik Palestina yang cukup terkenal pada masanya. Raymonda dikenal berani menulis tentang perjuangan rakyat Palestina di berbagai media internasional.
Sejak kecil Suha tumbuh di lingkungan keluarga yang intelektual, kritis, dan dekat dengan dunia politik.

Setelah menyelesaikan pendidikan awal di Yerusalem dan Ramallah, ia melanjutkan studi ke Paris, Prancis.
Di kota yang dikenal sebagai pusat pemikiran Eropa itu, Suha menempuh pendidikan di Sorbonne University, salah satu universitas paling prestisius di dunia.

Di sana ia mempelajari
Ilmu Politik
Komunikasi Hubungan Internasional.
Pendidikan ini membuatnya memiliki wawasan luas tentang diplomasi global dan konflik internasional, sesuatu yang kelak sangat berkaitan dengan kehidupan suaminya.

Pertemuan yang Mengubah Jalan Hidup

Pada akhir tahun 1980-an, Suha mulai terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan perjuangan Palestina.
Melalui aktivitas inilah ia akhirnya bertemu dengan tokoh yang sangat dikenal di dunia Arab dan internasional.

Saat itu Arafat sudah menjadi simbol perjuangan Palestina dan pemimpin organisasi Palestine Liberation Organization (PLO).

Ia dihormati oleh banyak rakyat Palestina, tetapi juga menjadi tokoh yang kontroversial dalam politik dunia.

Pertemuan mereka yang awalnya bersifat profesional perlahan berkembang menjadi hubungan yang lebih dekat.

Pernikahan yang Mengejutkan Dunia

Pada tahun 1990, dunia internasional dikejutkan oleh kabar yang hampir tidak pernah diperkirakan sebelumnya.

Pernikahan itu bahkan dilakukan secara sangat tertutup, sehingga banyak orang baru mengetahuinya setelah beberapa waktu kemudian.

Wanita yang dinikahinya adalah Suha Tawil.
Perbedaan usia mereka menjadi perhatian besar dunia. Yasser Arafat: sekitar 61 tahun
Suha Arafat: sekitar 27 tahun.

Perbedaan usia lebih dari 30 tahun membuat pernikahan ini menjadi perbincangan luas di media internasional.
Banyak orang bahkan tidak percaya bahwa seorang pemimpin revolusioner yang hampir seluruh hidupnya dihabiskan untuk perjuangan politik akhirnya memutuskan untuk membangun sebuah keluarga.

Latar Belakang Agama Suha Arafat

Suha Arafat lahir dari keluarga Kristen Palestina, tepatnya Kristen Ortodoks Timur, yang merupakan salah satu komunitas Kristen tertua di Timur Tengah.
Ayah dan ibunya berasal dari keluarga Kristen Palestina yang cukup terpandang dan aktif dalam dunia sosial serta intelektual.

Namun, setelah menikah dengan Yasser Arafat pada tahun 1990, Suha memeluk agama Islam.
Keputusan ini membuatnya resmi mengikuti agama suaminya.

Perubahan agama tersebut, sempat menjadi perhatian media internasional karena Suha sebelumnya dikenal berasal dari keluarga Kristen Palestina yang cukup berpengaruh.

Hadiah Terbesar dalam Hidup Arafat

Selama bertahun-tahun dunia melihat Arafat sebagai pemimpin politik yang selalu berbicara tentang perjuangan, konflik, dan masa depan Palestina.

Namun, pada tahun 1995, kabar bahagia datang dari kehidupan pribadinya. Suha melahirkan seorang putri di Paris yang diberi nama: Zahwa Arafat.

Nama Zahwa diambil dari nama ibu Yasser Arafat.
saat putrinya lahir, Arafat sudah berusia sekitar 66 tahun.

Bagi banyak orang yang dekat dengannya, kelahiran Zahwa adalah salah satu kebahagiaan pribadi terbesar dalam hidup Arafat.

Seorang pemimpin revolusi akhirnya merasakan kehidupan sebagai seorang ayah.

Sisi Manusiawi Sang Pemimpin

Selama ini dunia mengenal Arafat sebagai tokoh politik keras yang selalu berada di tengah konflik Timur Tengah.
Namun dalam beberapa foto keluarga yang jarang beredar, terlihat sisi lain dari dirinya. Bukan sebagai pemimpin perang atau diplomat dunia, melainkan sebagai seorang ayah yang tersenyum hangat ketika memandang putrinya.

Momen-momen kecil itu memperlihatkan bahwa di balik sosok revolusioner yang keras, Arafat tetaplah seorang manusia dengan cinta dan keluarga.

Kehidupan Setelah Arafat Wafat

Pada 11 Nopember 2004, dunia kembali berduka ketika Yasser Arafat meninggal dunia di Paris setelah sakit.

Yaser Arafat meninggal dunia diduga diracuni pihak Israel menggunakan zat radioaktif polonium 210 diungkap tim pakar dari Swiss.

Setelah kepergian suaminya, Suha Arafat memilih hidup jauh dari sorotan politik.

Ia lebih fokus membesarkan putrinya.
Selama bertahun-tahun Suha tinggal di beberapa negara, termasuk:
Tunisia dan Malta.

Sementara putrinya Zahwa Arafat diketahui pernah menempuh pendidikan di Malta.
Hingga kini kehidupan Suha dan putrinya relatif lebih tertutup dari media, jauh dari hiruk-pikuk politik Timur Tengah.

Fakta yang Jarang Diketahui Dunia

Yasser Arafat menikah pada usia 61 tahun
Istrinya terpaut usia lebih dari 30 tahun
Putri mereka lahir saat Arafat berusia 66 tahun
Pernikahan mereka awalnya dirahasiakan dari publik. Suha berasal dari keluarga Kristen Palestina sebelum memeluk Islam

Penutup

β€œDi balik sorban dan perjuangan politiknya, dunia sering melihat Yasser Arafat sebagai simbol perlawanan Palestina.
Namun di balik semua itu, ia juga seorang suami dan ayah yang mencintai keluarganya.

Kadang dunia hanya melihat perjuangan seorang pemimpin…
tetapi jarang melihat sisi manusia di baliknya.”

Pewarta: Nani Casnani
Editor : Loh

Laode Hazirun

Ketua Umum Jurnal Sepernas."Sepernas satu2nya organisasi pers dari Indonesia timur yg merancang UU Pers tahun 1998 bersama 28 organisasi pers" HP: 0813-4277-2255