ππ‘π„π€πŠπˆππ† 𝐍𝐄𝐖𝐒

Sudomo Sempat Berlabuh di Hati Siska

Jakarta, Jurnalsepernas.id DI masa ketika kekuasaan Erw Orde Baru (Orba) masih kokoh, nama Sudomo salah seorang menteri kesayangan Soeharto berdiri sebagai salah satu figur kuat negara. Namun pada 20 September 1990, sorotan publik tak hanya tertuju pada jabatan dan pengaruhnya, melainkan pada keputusan pribadinya: menikahi seorang foto model, Fransiska Diah Widhowati, yang kemudian dikenal sebagai Siska Soedomo.

Perbedaan usia mencolok 32 tahun, Sudomo (68), Siska (36) langsung menjadi bahan pembicaraan. Apalagi menjelang pernikahan itu, Sudomo berpindah agama menjadi Protestan, di mana saat itu sebagai menteri sosial.

Di tengah iklim politik yang sensitif, publik ramai-ramai mengaitkan peristiwa ini dengan berbagai tafsir. Bahkan muncul plesetan yang sempat populer: β€œSisca Datang Sudomo Senang,” permainan kata dari istilah SDSB yang saat itu dikenal luas.

Pernikahan itu menyatukan dua dunia: satu dari lingkar elite kekuasaan, satu dari dunia modeling dan gaya hidup modern. Namun kebersamaan tersebut hanya bertahan empat tahun. Pada 1994, gugatan cerai diajukan. Alasan yang mengemuka: ketidakcocokan, pertengkaran yang terus berulang, dan tidak hadirnya anak dalam rumah tangga mereka.

Prosesnya sempat berjalan di Pengadilan Jakarta Selatan, beberapa kali disidangkan, sebelum akhirnya diselesaikan di luar pengadilan. Beredar kabar adanya kesepakatan kompensasi bernilai miliaran rupiah, meski detailnya tak pernah sepenuhnya terbuka ke publik.

Setelah perceraian, arah hidup Siska berubah jauh. Di usia 37 tahun, ia meninggalkan hiruk-pikuk Jakarta dan menetap di Australia. Di Sydney, ia memulai bab baru dengan menikah lagi pada 6 Januari 1996 dengan Martin John Silitonga. Dari pusat kekuasaan di Jakarta, ia berpindah ke kehidupan yang lebih tenang di negeri seberang.

Sebelum Siska, Sudomo pernah menikah dengan Fransisca Piay dan bercerai pada 1980. Setelah berpisah dari Siska, ia kembali menikah dengan Aty Kusumawaty.

Kisah Sudomo dan Siska bukan sekadar cerita rumah tangga yang kandas. Ia adalah potret bagaimana kehidupan pribadi seorang tokoh besar bisa menjadi konsumsi publikβ€”tentang cinta yang lahir di bawah sorot lampu kekuasaan, bertahan singkat, lalu berakhir, sebelum masing-masing melanjutkan hidup di jalan yang berbeda, bahkan di benua yang berbeda.

Pewarta: Koko Herie
Editor : Loh

Laode Hazirun

Ketua Umum Jurnal Sepernas."Sepernas satu2nya organisasi pers dari Indonesia timur yg merancang UU Pers tahun 1998 bersama 28 organisasi pers" HP: 0813-4277-2255