Westerling, Jagal 40 Ribu Jiwa

(Westerling, Pembunuh Massal 40.000 Jiwa Desember 1946 di Makassar. Foto: Dok.Istimewa)
Makassar, Jurnalsepernas.id – DESEMBER 1946 datang tanpa hujan, namun langit Sulawesi Selatan tetap gelap. Kelabu bukan karena awan, melainkan karena firasat buruk yang menggantung di udara.
Dari pelabuhan Makassar, kabar tentang kedatangan seorang perwira Belanda bernama Kapten Westerling yang bernama lengkap Raymond Pierre Paul Westerling menyebar pelan namun pasti, seperti bisikan kematian yang menelusup dari rumah ke rumah.
Nama itu belum dikenal, tetapi rasa takut yang dibawanya langsung dipahami yang akhirnya dikenal sebagai pembunuh massal.
Westerling, perwira berdarah Turki yang dingin dan tak berakar pada tanah ini, datang membawa dalih βketertibanβ dan βperdamaianβ. Namun, di balik kata-kata itu tersembunyi satu kenyataan pahit: Sulawesi Selatan akan dijadikan ladang darah. Bersama pasukan Depot Speciale Troepen (DST).
Ia membawa metode yang kelak menghancurkan ribuan keluarga, keadilan palsu yang diputuskan dalam sekejap, tanpa suara pembelaan, tanpa harapan kembali.
Fajar yang Tak Pernah Terbit Utuh
Teror selalu dimulai saat malam masih bernapas. Desa-desa seperti Batua, Tanjung Bunga, dan kampung-kampung kecil di timur Makassar dikepung dalam sunyi. Saat fajar merekah, bukan ayam jantan yang membangunkan warga, melainkan dentuman sepatu bot dan teriakan perintah dalam bahasa asing.
Pria-pria dipisahkan dari istri dan anak-anaknya. Mereka digiring ke tanah lapang, berdiri berdesakan di bawah laras senjata yang dingin. Tak ada ruang untuk air mata, hanya mata-mata yang membesar, tangan yang gemetar, dan doa-doa yang dipanjatkan tanpa suara.
7
(Foto Westerling Tahun 1948)
Di tengah lingkaran ketakutan itu, Westerling berdiri. Wajahnya datar, matanya kosong, seolah yang dihadapinya bukan manusia, melainkan benda yang siap dibuang. Ia tidak mencari kebenaran; ia mencari korban.
βSiapa pemberontak? Siapa yang membantu Republik?β
Pertanyaan itu bukan permintaan jawaban, melainkan vonis yang telah diputuskan sebelumnya.
Penduduk terjebak dalam pilihan paling kejam yang bisa diberikan kepada manusia. Menunjuk berarti membunuh sesama. Diam berarti menunggu kematian acak jatuh dari langit.
Ketika tak ada yang bicara, Westerling menunjuk sendiri tiga, empat, lima orang. Mereka roboh satu per satu. Tanah menyerap darah mereka dengan sunyi, sementara jerit tertahan menggema di dada para saksi yang dipaksa hidup.
Tangisan yang Tak Pernah Dicatat Sejarah
Di setiap desa, tragedinya sama. Seorang ibu jatuh berlutut, menjerit memanggil nama anaknya yang diseret keluar barisan. Seorang bocah kecil mematung, menyaksikan ayahnya seorang petani yang tak pernah memegang senjata terkapar hanya karena tak tahu nama pejuang. Tak ada pemakaman layak, tak ada doa bersama.

Mayat-mayat dibiarkan sebagai peringatan: inilah harga hidup di bawah teror.
Tangan Westerling tak pernah gemetar. Setiap jarinya yang menunjuk adalah lonceng kematian. Dan ketika peluru dilepaskan, ia bukan hanya merenggut nyawa, tetapi juga menghancurkan masa depan yang tak sempat tumbuh.
Luka yang Tak Pernah Sembuh di Tanah Bugis-Makassar
Teror itu menjalar seperti penyakit tanpa obat ke Polobangkeng, Galung Lombok, Malino, dan desa-desa lain yang namanya kini hanya hidup dalam ingatan para janda dan anak yatim.
Sungai-sungai membawa mayat, jalan-jalan basah oleh darah, dan bau kematian menggantung berhari-hari, menolak pergi.
Apa yang disebut Westerling sebagai βpembersihanβ adalah pembantaian sistematis. Bukan hanya pejuang yang dibunuh, tetapi rakyat biasa yang tak pernah memilih perang.
Puluhan ribu jiwa hilang, meninggalkan satu istilah yang terus menghantui sejarah Indonesia: Korban 40.000 Jiwa, angka yang bukan sekadar statistik, melainkan jerit yang tak sempat dicatat satu per satu.
4
Westerling kelak mengecilkan tragedi ini, mengklaim jumlah korban hanya ratusan. Namun tanah Sulawesi Selatan tahu kebenarannya. Setiap jengkalnya menyimpan nama, setiap anginnya membawa ratapan.
Operasi teror itu mungkin berhasil membungkam perlawanan sementara, tetapi ia juga menanam luka yang tak pernah sembuh.
Raymond Westerling yang lahir 31 Agustus 1919 di Boyoglu, Istambul, Turki dan wafat 26 Nopember 1987 di Purmerend, Belanda tercatat bukan sebagai penegak ketertiban, melainkan sebagai simbol kegelapan, seorang jagal atau pembunuh massal yang meninggalkan jejak darah di tanah yang hanya ingin merdeka.
Sulawesi Selatan menjadi saksi bisu bahwa kemerdekaan Indonesia lahir bukan dari perundingan semata, melainkan dari tragedi kemanusiaan yang tak terhitung.
Kini tragedi pembantaian massal tersebut, dijadikan monumen dan nama sebuah jalan raya di Kelurahan Timungan Lompoa, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) dan setiap 11 Desember diperingati sebagai Hari Korban 40.000 Jiwa untuk mengenang nyawa-nyawa yang gugur tanpa nisan. Dari tangisan yang tak pernah masuk arsip. Dari duka yang diwariskan lintas generasi hingga hari ini. (Sumber: National Geographic Infonesia).
Pewarta/Editor: Loh












