Benyamin Kecam Disdikbud TTS

Soe, Jurnalsepernas.id – BENYAMIN Kamlasi adalah salah seorang Tokoh Pemuda (Toda) di Desa Loli, Kecamatan Polen, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa tenggara Timur (NTT) heran menyaksikan kebijakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) TTS.
Selaku tokoh pemuda dan pemerhati pendidikan, Benyamin Kamlas mengecam keras tindakan Disdikbud Kabupaten TTS yang memindahkan empat orang guru mutu dari Sekolah Dasar Instruksi Presiden (SD Inpres) Loli tanpa koordinasi.
Empat guru yang dipindahkan tersebut, diketahui berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) yang selama ini menjadi tulang punggung mutu pendidikan di SD Inpres Loli.
Benyamin mempertanyakan motif dibalik pemindahan mendadak tersebut.
Ada apa dibalik pemindahan empat orang guru P3K ini? Secara aturan P3K belum bisa dimutasikan sebelum habis masa kontrak.
“Hal ini jelas melanggar regulasi,” tegas Benyamin kepada Jurnalsepernas.id, Ahad (27/09/26)
Tentu yang lebih disesalkan, pemindahan dilakukan tepat di masa persiapan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK).

“Mengapa di masa persiapan ANBK anak murid kok empat orang guru dipindahkan? Bagaimana dengan kegiatan belajar mengajar anak murid nanti,” tanyanya heran.
Menurutnya, kekosongan guru secara mendadak akan berdampak langsung pada proses belajar mengajar dan persiapan ANBK.
Benyamin menganggap kebijakan Disdikbud TTS ini berpotensi menimbulkan dampak penelantaran terhadap hak pendidikan anak murid SD Inpres Loli.
“Ini bentuk penelantaran terhadap anak murid. Mereka butuh guru. Kalau guru dipindahkan seenaknya tanpa koordinasi, siapa yang mengajar? Mutu pendidikan di Loli yang jadi korban,” kecamnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Disdikbud TTS belum memberikan klarifikasi resmi terkait alasan pemindahan empat guru P3K tersebut.
Masyarakat Desa Loli berharap, Bupati TTS turun tangan dan mengembalikan empat guru tersebut, demi menyelamatkan masa depan pendidikan anak-anak di daerah perbatasan.
Adapun disampaikan wakil Komite SD Inpres Loli adalah generasi tokoh di desa itu menyampaikan kepada media ini bahwa dia sudah bertemu dengan Kepala Bidang Pendidikan dan Kebudayaan TTS di Ruangannya dan Kepala Bidang (Kabid) secara langsung berkomunikasi kepada salah seorang guru Yosafina Angket.
Kabid mengatakan, ibu tidak usah menangis, jadi guru itu harus berani, ibu bisa menyampaikan kepada teman tiga orang untuk bekerja sebagai mana mestinya di sekolah SD Inpres Loli.
Tapi ternyata, setelah Wakil Komite kembali ke Loli malah apa yang disampaikan Kabid berubah dan tetap memindahkan ke empat orang guru tersebut.
Di sini saya mau pertegas melalui media ini semoga Bupati dan Wakil Bupati tidak membiarkan persoalan ini karena, akan membuat anak-anak bangsa yang ada di SD Impres Loli terganggu dalam KBM nanti.
Pewarta: Maklon Angket
Editor : Loh












