Opini

Mantan Narapidana

(Cerpen Karya: Sylviana Mustofa)

“MENGAPA kamu membunuh ayahmu sendiri?,” tanya seorang polisi wanita yang duduk berseberangan meja denganku. Aku sedang interogasi tentang kematian ayah tiriku.

“Dia bukan ayahku,” sahutku datar.

Sudah tiga puluh menit lebih aku dikurung di ruangan interogasi ini. Ruangan 3×3 meter dengan pencahayaan lampu remang-remang. Hanya ada tiga buah kursi kayu dan satu meja yang ada di tengah-tengah kami. Terdapat kaca tembus pandang di salah satu dindingnya.

Ada tiga orang polisi wanita yang sejak tadi bertanya banyak hal padaku, tetapi aku hanya menjawab pertanyaan- pertanyaan tertentu saja. Ini sudah ke sepuluh kalinya mereka bertanya, mengapa aku membunuh iblis berwujud manusia yang sudah enam tahun menjadi pendamping ibuku itu.

“Oke, ayah tirimu.” Wanita berambut cepak itu menatapku dalam-dalam. “Jadi apa alasanmu?” Aku diam saja. Bukan tanpa alasan mengapa aku tidak mau menjawab pertanyaan mereka, tetapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak membuka mulut soal ini semua. “Arin, itu namamu bukan?” Aku menangguk. “Dengarkan ini baik-baik. Jika kau mengatakan semuanya, hukumanmu pasti lebih ringan. Katakan jika ada alasan dibalik semua ini.” Aku diam saja, yang membuat wanita cantik di hadapanku ini menghela napas dan memijat pelipisnya.

“Kalau nggak bisa pake cara lembut, kita paksa saja dia,” bisik salah satu temannya geram.

“Kita harus tenang, kita nggak bisa melakukan itu, karena dia masih di bawah umur,” ujar salah satu Polwan lainnya.

Kedua temannya memilih ke luar, mungkin karena kesal, sehingga hanya ada wanita ini saja di hadapanku dan ia kembali bertanya.

“Apa … kau menyesal sudah melakukan semua ini,” tidak jawabku.

“Apa alasannya,” tanyanya tidak percaya.

Aku masih diam saja. Wanita itu menghempaskan punggungnya ke daun kursi sambil mengulum kedua bibirnya, geram. Sementara matanya memejam kuat, lalu ia berdiri dan …. “Katakan! Kenapa? Bentaknya kemudian sambil menggebrak meja.

Ketuk palu. Hari itu, aku di vonis delapan tahun kurungan penjara. Aku dipindahkan ke Lapas Pembinaan khusus Anak (LPKA) Kelas 1. Awalnya, mendengar kata-kata penjara terbayang suasana dan tempat yang menakutkan. Terasing, sendiri, sunyi dan jauh dari hingar-bingar dunia luar. Aku berpikir, di sini akam bertemu dengan menusia-manusia kejam dan bengis.

Belum lagi para tahanan dengan berbagai macam kejahatan yang mereka lakukan. Nyatanya, setelah aku sampai, bayangan itu sirna. Ternyata lapas khusus anak dan wanita sangat hangat dan bersahabat. Meskipun ada satu dua orang yang ketus, tapi kebanyakan dari mereka, pegawai dan teman-teman tahanan menerima kedatanganku dengan senyuman.

“Namamu siapa?” tanya seseorang saat aku masuk ke dalam sel tahanan, yang sudah disulap, seperti kamar anak pada umumnya.

Kasur single berukuran 90×200 cm berjajar rapi di dalam sini. Aku menoleh, tersenyum, lalu mengulurkan tangan dan ia menyambutnya. “Aku Arin. Arin Nazwa,” sahutku.

“Salam kenal, aku Irma,” balasnya.

Setelahnya Irma bercerita, katanya di sini kami akan dibina, supaya kelak jika keluar dari sini, kami memiliki keterampilan untuk bertahan hidup di luar sana. Dia juga menjelaskan, kalau di sini kami akan melanjutkan sekolah seperti sekolah pada umumnya, hanya saja kegiatan belajar sekolah istimewa LPKA hanya diadakan di hari Senin sampai Kamis saja. Untuk hari Jum’at diisi dengan olahraga, sementara Sabtu ada kegiatan pramuka dan untuk minggu, waktunya anak-anak istirahat.

Aku mengangguk tanda mengerti saat Irma menjelaskan semuanya, kemudian aku berdiri dibalik jeruji, memandang setiap sudut tempat lapas ini. Di sini, dalam satu ruangan ditempati oleh tujuh anak. Salah duanya adalah aku dan Irma. Di sini aku akan menghabiskan waktu selama delapan tahun lamanya, tetapi itu bukan hal yang buruk, dibanding jika harus hidup bersama … ibu.

Malamnya, semua orang sudah terlelap. Sepertinya hanya aku yang masih terjaga. Irma yang berbaring di kasur tepat di sampingku mengubah posisi, yang tadinya terlentang me

njadi berbaring miring menghadap ke arahku. Aku meliriknya, lalu tersenyum.

“Kamu kenapa belum tidur?”

“Masih menikmati kedamaian di sini,” jawabku singkat.

“Damai?” dahinya mengerut dan aku mengangguk.

“Ini malam ternyaman yang pernah kurasakan, sebelumnya hidupku tidak setenang ini,” aku mambatik.

“Kau tidak bersedih berada di sini?” Aku menggeleng. “Kau tidak merindukan ibumu?” Aku diam, menunduk, lalu menghela nafas dan mengembuskannya secara perlahan.

“Bisa nggak jangan bahas mengenai keluarga,” pintaku.

“Owh sorry teman baruku,” sahut Irma. Kalau begitu boleh tanya lagi?” Aku kembali memandangnya.

“Kasus apa yang membuatmu sampai ada di sini? Kau … membunuh? Aku mengangguk. Irma tersenyum tipis. Ia menyibakkan selimutnya, lalu beringsut duduk. Ditariknya kedua lutut, lalu melingkarkan kedua tangannya di sana, sementara tubuhnya bersandar pada dinding dengan kepala mendongak ke atas. “Aku juga. Aku … membunuuh langgananku sendiri,” kenang Irma.

“Langganan?,” tanyaku heran. Apakah dia seorang penjual makanan, atau yang lainnya. Apakah langganannya mencuri barangnya atau …

“Ya … aku seorang kupu-kupu malam yang kerap dibooking lelaki,” imbuh Irma. Aku terhenyak. Ternyata tak satupun tebakanku benar. Mataku tak berkedip menatapnya. “Namanya Pak Jaya. Dia lelaki yang memiliki kelainan Sa do mas oki sme.”

“Apa itu,” tanyaku ingin tau arti yang barusan disebut Irma.

“Prilaku kelainan seksual di mana dia merasakan kenikmatan saat ia menyakiti atau disakiti teman tidurnya. Dicambuk, dipukul, dicekik dan dicakar menjadi makananku setiap kali kami berkencan. Lebam, berdarah, bahkan jemariku pernah patah olehnya.

Awalnya aku berusaha maklum, tetapi dipertemuan berikutnya, aku merasa nyawaku terancam. Dia mencekik leherku sampai aku tidak bisa bernapas, dan di saat itulah, aku mengeluarkan gunting yang sudah kusisipkan dari bawah bantal dan terjadilah pertumpahan darah itu. Aku didakwa dengan pembunuhan berencana, dan dihukum sepuluh tahun penjara.”

“Maaf, aku … aku turut prihatin Ir,” sela Arin.

Irma mendengus, lalu tersenyum. “Its oke. Aku merasa lebih baik selama aku berada di sini. Setidaknya dosaku berkurang dengan tidak menjajakan diri lagi. Semoga nanti, setelah ke luar dari sini, aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. “Aamiin,” jawabku singkat.

Ternyata, banyak di luar sana yang kisah hidupnya lebih pedih dari pada aku.

“Lalu, apa yang terjadi padamu sampai kau melakukan hal yang sama denganku?,” tanya Irma kemudian. Aku yang tidak siap dengan pertanyaan itu, sehingga terdiam beberapa saat. “Hey, kalau kau keberatan mengatakannya, aku tidak masalah,” ketus Irma.

“Aku … aku melenyapkannya nyawa suami dari ibuku,” sahutku terbata.

“Suami dari ibumu, artinya dia bukan ayah kandungmu?,” aku mengangguk.

“Kenapa?” Aku diam saja. “Boleh kutebak, dia pasti mau melecehkan mu, atau … dia suka menyakiti ibumu?”

“Tidak keduanya,” jawabku.

“Lalu?,” tanya Irma lagi penasan. Ibuku lebih sayang dan perhatian pada suaminya ketimbang aku anaknya. “Aku kecewa pada ibuku yang sangat mengistimewakan suaminya, sementara aku tak dipedulikan, sehingga aku benci dan dendam pada ayah tiriku, suami dari ibuku, lalu malam itu aku lampiaskan dendamku. Itulah sebabnya aku meringkuk di Lapas ini,” cerita Arin sembari meneteskan air mata.*

RUSMIN

Ketua II Dewan Pimpinan Pusat Serikat Pers Reformasi Nasional (DPP-SEPERNAS) Kordinator Nasional ( KORNAS) Media Cetak dan Online, Jurnalsepernas.id. Mengungkap Fakta Tanpa Batas dengan melalui investigasi dan monitoring Telepon: 082332930636 / 082312911818.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga
Close